Saturday, January 5, 2013

UAS PTK "PROPOSAL"


UPAYA PENINGKATAN AKHLAK MELALUI PEMBIASAAN SHALAT DHUHA
PADA SISWA KELAS V SDN 01 KANIGORO MADIUN
TAHUN PELAJARAN 2012/ 2013

Nurul May Syaroh

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Penelitian
Allah Swt. menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Dalam rangka ibadah kepada Allah Swt., manusia telah diberi petunjuk oleh-Nya. Petunjuk Allah Swt. tersebut dinamakan Ad-Din (Agama). Agama adalah satu kata yang sangat mudah diucapkan dan mudah juga untuk menjelaskan maksudnya (khususnya bagi orang awam), tetapi sangat sulit memberikan batasan (definisi) yang tepat lebih-lebih bagi para pakar (Syihab, 1994: 209).

Menurut Nasr dalam Hariyanto (2003: 4), menyatakan bahwa manusia sangat membutuhkan agama, tanpa agama ia belum menjadi manusia utuh. Setelah manusia dipisahkan dari agama, ia menjadi gelisah, tak tenang dan mulai membuat atau menciptakan agama-agama semu. Selanjutnya Quraisy Syihab mengatakan, Islam telah menegaskan bahwa agama (tauhid) merupakan kebutuhan yang sifatnya alamiah (fitrah) dalam diri manusia (Hariyanto, 2003: 5).
Allah Swt. menciptakan manusia hanya untuk beribdah kepada-Nya. Sebagaimana Firmannya dalam Al Qur’an surat Ad-Dzariyat: 56.
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Ad-Dzariyat: 56). Secara filosofis, ibadah dalam Islam tidak semata-mata bertujuan untuk menyembah Allah Swt. Sebab, disembah atau tidak disembah, Allah Swt. tetaplah Allah Swt. Islam adalah shalat. Shalat memiliki kedudukan istimewa baik dilihat dari cara memperoleh perintah yang dilakukan secara langsung, kedudukan shalat itu sendiri dalam agama maupun dampak atau fadilahnya.
Ibadah shalat dalam garis besarnya, dibagi kepada dua jenis, yaitu: shalat yang difardlukan dan shalat yang tidak difardlukan, dinamai shalat sunah (As-Syiddieqy, 2001: 287). Shalat sunah ialah shalat yang dianjurkan kepada orang mukallaf untuk mengerjakannya sebagai tambahan bagi shalat fardlu, tetapi tidak diharuskan.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa shalat itu dibagi menjadi dua macam, yaitu: shalat fardlu dan shalat sunah. Shalat sunah tersebut dibagi lagi menjadi menjadi beberapa macam. Dalam penelitian ini, peneliti lebih mengkhususkan pada shalat sunah Dhuha.
Dari fakta yang ada di SDN 01 Kanigoro banyak siswa yang berperilaku tidak baik khususnya dalam hal berperilaku. Hasil pengamatan ada beberapa siswa yang kurang sopan dan bertingkah laku tidak baik. Apalagi ketika pelajaran dimulai, jika tidak ada guru yang masuk kelas, siswa tidak melakukan berdoa. Padahal kegiatan berdoa merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Hasil observasi sementara yang dilakukan adalah di mana siswa SDN 01 Kanigoro sebelum diterapkannya pembiasaan shalat Dhuha, mereka kurang produktif dalam memanfaatkan waktu, di saat istirahat mereka hanya dengan bermain-main saja. Setelah para guru dan pengurus yayasan mengadakan musyawarah, disepakati bahwa shalat Dhuha harus diterapkan bagi siswa minimal tiga kali dalam seminggu. SDN 01 Kanigoro, mulai diterapkannya shalat Dhuha telah banyak memberikan pengaruh dan pembinaan akhlak bagi siswa dan juga respon dari orang tua siswa.
Dari latar belakang tersebut, maka peneliti ingin mencermati dan mengkaji secara lebih mendalam dan ilmiah, akan Pembiasaan shalat Dhuha dalam pembinaan akhlak siswa SDN 01 Kanigoro tahun pelajaran 2012/ 2013.
  
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah perencanaan pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa kelas V SDN 01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013?
2.      Bagaimanakah pelaksanaan pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa kelas V SDN 01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013?
3.      Bagaimanakah hasil pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa kelas V SDN 01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013?

C.    Tujuan Penelitian
1.      Untuk mendeskripsikan perencanaan pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa kelas V SDN 01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013.
2.      Untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa kelas V SDN 01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013.
3.      Untuk mendeskripsikan hasil pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa kelas V SDN 01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013.

D.    Hipotesis
Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan di atas, hipotesis tindakan penelitian ini adalah sebagai berikut:
Akhlak siswa kelas V SDN 01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013 akan meningkat jika melalui pembiasaan shalat dhuha.

E.     Manfaat Penelitian
a.       Siswa
Untuk mengetahui dan meningkatkan akhlak siswa SDN 01 Kanigoro.
b.      Guru
Untuk membiasakan shalat dhuha agar bisa dijadikan model oleh siswa.
c.       Sekolah
Memberikan sumbangan keilmuan sehinga kualitas dan mutu sekolah meningkat dan sebagai pemberdayaan sekolah.
d.      Peneliti lain
Penelitian ini menjadi tolok ukur seberapa dalam pengetahuan dan wawasan terkait dengan pembiasaan shalat Dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa dan sebagai sarana latihan dalam pengembangan keilmuan dalam keterampilan penyusunan karya ilmiah.


BAB II
Kajian Pustaka

a.      Kajian tentang Pembiasaan
Kata pembiasaan berasal dari kata dasar “biasa” yang berarti sebagai sediakala, sebagai yang sudah-sudah, tidak menyalahi adat, atau tidak aneh. Kata “membiasakan” berarti melazimkan, mengadatkan, atau menjadikan adat. Dan kata “kebiasaan” berarti sesuatu yang telah biasa dilakukan, atau adat (Poerwadarminta, 2007: 153). Jadi, kata pembiasaan berasal dari kata dasar “biasa” yang memperoleh imbuhan prefiks “pe” dan sufiks “an”, yang berarti proses membiasakan, yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu kebiasaan atau adat.
Pembiasaan mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia, karena dengan kebiasaan, seseorang mampu melakukan hal-hal penting dan berguna tanpa menggunakan energi dan waktu yang banyak. Dari sini dijumpai bahwa dalam Al Qur’an menggunakan pembiasaan yang dalam prosesnya akan menjadi kebiasaan sebagai salah satu cara yang menunjang tercapainya target yang diinginkan dalam penyajian materi-materinya.
Menurut Zayadi (2005: 64), bahwa proses pembiasaan harus dimulai dan ditanamkan kepada anak sejak dini. Potensi ruh keimanan manusia yang diberikan oleh Allah Swt. harus senantiasa dipupuk dan dipelihara dengan memberikan pelatihan-pelatihan dalam ibadah. Jika pembiasaan sudah ditanamkan, maka anak tidak akan merasa berat lagi untuk beribadah, bahkan ibadah akan menjadi bingkai amal dan sumber kenikmatan dalam hidupnya karena mereka bisa berkomunikasi langsung dengan Allah Swt. dan sesama manusia.

b.      Shalat Dhuha
Shalat Dhuha merupakan shalat sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Saw., sebab baliau berpesan kepada para sahabatnya untuk mengerjakan shalat Dhuha sekaligus menjadikannya sebagai wasiat. Wasiat yang diberikan kepada Rasulullah Saw. Kepada satu orang berlaku untuk seluruh umat, kecuali terdapat dalil yang menunjukkan kekhususan hukumnya bagi orang tersebut (Al Mahfani, 2008: 3). Shalat dhuha adalah shalat sunah yang dikerjakan pada pagi hari, dimulai setelah terbit matahari (sekitar jam 07.00) sampai sebelum masuk waktu Dzuhur ketika matahari belum naik pada posisi tengah-tengah.
Keutamaan shalat dhuha antara lain adalah Shalat Dhuha memiliki nilai amalan sedekah yang diperlukan oleh 360 persendian tubuh dan orang yang melaksanakannya akan memperoleh ganjaran pahala sebanyak jumlah persendian itu, Shalat Dhuha seseorang di awal hari menjanjikan tercukupinya kebutuhan orang tersebut di akhir hari, Shalat Dhuha bisa membuat orang yang melaksanakannya (atas izin Allah Swt.) meraih keuntungan (ghanimah) dengan cepat.

c.       Hakikat Akhlak
Kata akhlak ( َأخْلأَقٌ ) berasal dari bahasa Arab, yaitu jama’ dari khuluqun (خُلُقٌ ) yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Imam Al-Ghazali mengemukakan, bahwa akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu). Sedangkan Ahmad Amin menjelaskan, bahwa akhlak adalah adatul iradah atau kehendak yang dibiasakan. (Mustofa, 2005: 12).
Menurut Ibnu ‘Ilaan Ash-Shiddieqy, bahwa akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia yang dapat menimbulkan perbuatan baik, dengan cara yang mudah (tanpa dorongan dari orang lain). Sedangkan Abu Bakar Al-Jazairy mengatakan, bahwa akhlak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela dengan cara yang sengaja (Mahyuddin, 2001: 3).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah perbuatan manusia yang berasal dari dorongan jiwanya karena kebiasaan, tanpa memerlukan pikiran terlebih dahulu.

BAB III
Metode Penelitian

A.    Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif karena analisis data akan diuraikan secara verbal yang menggambarkan perencanaan, pelaksanaan, dan hasil tindakan pada siklus I dan II yang bertujuan untuk meningkatkan akhlak siswa melalui pembiasaan shalat dhuha. Penelitian ini berusaha mengungkapkan gejala secara menyeluruh dan sesuai dengan konteks (holistik dan kontekstual) melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, karena tindakan yang akan dilakukan pada pembelajaran dalam kelas. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri dari empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Kemmis menggambarkan daur PTK sebagai berikut:

Tindakan penelitian ini dilakukan dua siklus sebab setelah dilakukan refleksi yang meliputi analisis dan penelitian terhadap proses tindakan sebelumnya, akan muncul permasalahan atau pemikiran baru sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang, pengamatan ulang dan refleksi ulang.
Penelitian ini dimulai dari tahap identifikasi masalah mengenai pelaksanaan pembiasaan shalat dhuha untuk. Tindakan penelitian menggunakan siklus, yang terdiri atas tahap:
1.      Perencanaan yang merupakan upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam proses pembelajaran.
2.      Pelaksanaan tindakan yaitu melaksanakan pembiasaan shalat dhuha. Pembiasaan shalat Dhuha dilaksanakan tiga kali dalam seminggu, yaitu pada hari selasa, kamis, dan sabtu. Shalat Dhuha ini dimulai pada pukul 09.00 sampai 10.00 WIB.
Langkah-langkah: Mengajak siswa wudhu, Shalat Dhuha dilaksanakan dengan cara berjamaah pada dua rakaat pertama, dan dua rakaat selanjutnya dilaksanakan dengan sendiri-sendiri, Setelah shalat Dhuha selesai, siswa membaca do’a shalat Dhuha bersama-sama, kemudian diakhiri dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an yang dibimbing oleh guru.
3.      Pengamatan/observasi untuk mengetahui akhlak siswa dan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa.
4.      Tahap refleksi (perenungan, pemikiran, dan evaluasi) di setiap siklusnya (siklus I dan II) untuk mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan (Kemmis and Taggart, 1988). Sesuai dengan prinsip umum penelitian tindakan, setiap tahapan dan siklusnya dilakukan secara partisipatoris dan kolaboratif antara peneliti dan guru. Pada siklus II, siswa diabsen dan jika ada yang terlambat akan diberi hukuman yaitu membaca surat Yasin dengan bimbingan guru.

B.     Latar dan Subyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kelas V SDN 01 Kanigoro, selama tiga kali dalam seminggu yaitu selasa, kamis dan sabtu pukul 09.00 - 10.00. Penelitian ini dilakukan selama enam bulan, bulan September – bulan Februari.
Subyek penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 33 orang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Observer terdiri dari dua orang guru yang membantu peneliti melakukan dokumentasi.

C.    Teknik Pengumpulan Data
Pegumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Observasi yaitu melakukan pengamatan langsung kepada siswa mengenai tingkah laku siswa pada saat jam istirahat. Dalam hal wawancara, peneliti lebih banyak menggunakan wawancara tidak berstruktur (terbuka). Peneliti hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar subyek secara bebas. Sedangkan dokumentasi ini berupa foto yang berisi keyakinan, perasaan dan tindakan siswa.

D.    Instrument Penelitian
Peneliti sendiri dengan menggunakan pedoman observasi, wawancara, dokumentasi (alat perekam berupa video). Lembar Observasi dan angket hasil Kegiatan Belajar Mengajar
1.         Lembar observasi Kemampuan Melafalkan dan Menghafalkan Bacaan Sholat dhuha Siswa.
2.         Lembar observasi hasil aktifitas siswa dan guru, untuk mengamati aktifitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.
3.         Absensi pelaksanaan sholat dhuha. Lembar observasi dan angket tersebut diberikan setiap akhir putaran.

E.     Analisis data
Teknik analisis data secara deskriptif kualitatif. Data tentang ketakwaan melalui ceck list, catatan pengamatan, dokumentasi. 

Daftar Pustaka

Al Mahfani, M. Khalilurrahman. 2008. Berkah Shalat Dhuha. Jakarta: Wahyu Media.
Amin, Moh. 2011. Panduan Praktis Penelitian Tindakan Kelas Untuk Penelitian Angka Kredit Guru. Yogyakarta: Inspirasi
Hariyanto. 2003. Psikologi Shalat. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Mahyuddin. 2000. Konsep dasar Pendidikan Akhlak dalam Al-Qur’an dan Petunjuk Penerapannya dalam Hadits. Jakarta: Kalam Mulia.
Malawi, Ibadullah & Siswanto, Edy. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Madiun: IKIP PGRI Madiun.
Mustofa, A. 2005. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.
Poerwadarminta. 2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.


1 comment: