UPAYA PENINGKATAN
AKHLAK MELALUI PEMBIASAAN SHALAT DHUHA
PADA
SISWA KELAS V SDN 01 KANIGORO MADIUN
TAHUN
PELAJARAN 2012/ 2013
Nurul May Syaroh
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Penelitian
Allah Swt. menciptakan manusia hanya untuk beribadah
kepada-Nya. Dalam rangka ibadah kepada Allah Swt., manusia telah diberi
petunjuk oleh-Nya. Petunjuk Allah Swt. tersebut dinamakan Ad-Din (Agama). Agama
adalah satu kata yang sangat mudah diucapkan dan mudah juga untuk menjelaskan
maksudnya (khususnya bagi orang awam), tetapi sangat sulit memberikan batasan
(definisi) yang tepat lebih-lebih bagi para pakar (Syihab, 1994: 209).
Menurut Nasr dalam Hariyanto (2003: 4), menyatakan bahwa
manusia sangat membutuhkan agama, tanpa agama ia belum menjadi manusia utuh.
Setelah manusia dipisahkan dari agama, ia menjadi gelisah, tak tenang dan mulai
membuat atau menciptakan agama-agama semu. Selanjutnya Quraisy Syihab
mengatakan, Islam telah menegaskan bahwa agama (tauhid) merupakan kebutuhan
yang sifatnya alamiah (fitrah) dalam diri manusia (Hariyanto, 2003: 5).
Allah Swt. menciptakan manusia hanya untuk beribdah
kepada-Nya. Sebagaimana Firmannya dalam Al Qur’an surat Ad-Dzariyat: 56.
“Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku” (QS. Ad-Dzariyat: 56). Secara filosofis, ibadah dalam Islam tidak
semata-mata bertujuan untuk menyembah Allah Swt. Sebab, disembah atau tidak
disembah, Allah Swt. tetaplah Allah Swt. Islam adalah shalat. Shalat memiliki
kedudukan istimewa baik dilihat dari cara memperoleh perintah yang dilakukan
secara langsung, kedudukan shalat itu sendiri dalam agama maupun dampak atau
fadilahnya.
Ibadah shalat dalam garis besarnya, dibagi kepada dua jenis,
yaitu: shalat yang difardlukan dan shalat yang tidak difardlukan, dinamai
shalat sunah (As-Syiddieqy, 2001: 287). Shalat sunah ialah shalat yang
dianjurkan kepada orang mukallaf untuk mengerjakannya sebagai tambahan bagi
shalat fardlu, tetapi tidak diharuskan.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa shalat itu
dibagi menjadi dua macam, yaitu: shalat fardlu dan shalat sunah. Shalat sunah
tersebut dibagi lagi menjadi menjadi beberapa macam. Dalam penelitian ini,
peneliti lebih mengkhususkan pada shalat sunah Dhuha.
Dari fakta yang
ada di SDN 01 Kanigoro banyak siswa yang berperilaku tidak baik khususnya dalam
hal berperilaku. Hasil pengamatan ada beberapa siswa yang kurang sopan dan
bertingkah laku tidak baik. Apalagi ketika pelajaran dimulai, jika tidak ada
guru yang masuk kelas, siswa tidak melakukan berdoa. Padahal kegiatan berdoa
merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
Hasil observasi sementara yang dilakukan adalah di mana
siswa SDN 01 Kanigoro sebelum diterapkannya pembiasaan shalat Dhuha, mereka
kurang produktif dalam memanfaatkan waktu, di saat istirahat mereka hanya
dengan bermain-main saja. Setelah para guru dan pengurus yayasan mengadakan
musyawarah, disepakati bahwa shalat Dhuha harus diterapkan bagi siswa minimal
tiga kali dalam seminggu. SDN 01 Kanigoro, mulai diterapkannya shalat Dhuha
telah banyak memberikan pengaruh dan pembinaan akhlak bagi siswa dan juga
respon dari orang tua siswa.
Dari latar belakang tersebut, maka peneliti ingin mencermati dan mengkaji secara lebih mendalam dan ilmiah, akan Pembiasaan shalat Dhuha dalam pembinaan akhlak siswa SDN 01 Kanigoro tahun pelajaran 2012/ 2013.
Dari latar belakang tersebut, maka peneliti ingin mencermati dan mengkaji secara lebih mendalam dan ilmiah, akan Pembiasaan shalat Dhuha dalam pembinaan akhlak siswa SDN 01 Kanigoro tahun pelajaran 2012/ 2013.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
perencanaan pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa kelas V SDN
01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013?
2. Bagaimanakah
pelaksanaan pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa kelas V SDN
01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013?
3. Bagaimanakah
hasil pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa kelas V SDN 01
Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013?
C.
Tujuan
Penelitian
1. Untuk
mendeskripsikan perencanaan pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak
siswa kelas V SDN 01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013.
2. Untuk
mendeskripsikan pelaksanaan pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak
siswa kelas V SDN 01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013.
3. Untuk
mendeskripsikan hasil pembiasaan shalat dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa
kelas V SDN 01 Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013.
D.
Hipotesis
Berdasarkan
masalah dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan di atas, hipotesis tindakan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
Akhlak siswa kelas V SDN 01
Kanigoro Madiun tahun pelajaran 2012/ 2013 akan meningkat jika melalui pembiasaan
shalat dhuha.
E.
Manfaat
Penelitian
a. Siswa
Untuk mengetahui dan meningkatkan akhlak
siswa SDN 01 Kanigoro.
b. Guru
Untuk membiasakan shalat dhuha agar
bisa dijadikan model oleh siswa.
c. Sekolah
Memberikan sumbangan keilmuan
sehinga kualitas dan mutu sekolah meningkat dan sebagai pemberdayaan sekolah.
d. Peneliti
lain
Penelitian
ini menjadi tolok ukur seberapa dalam pengetahuan dan wawasan terkait dengan
pembiasaan shalat Dhuha dalam meningkatkan akhlak siswa dan sebagai sarana
latihan dalam pengembangan keilmuan dalam keterampilan penyusunan karya ilmiah.
BAB II
Kajian Pustaka
a.
Kajian
tentang Pembiasaan
Kata pembiasaan berasal dari kata dasar “biasa” yang berarti
sebagai sediakala, sebagai yang sudah-sudah, tidak menyalahi adat, atau tidak
aneh. Kata “membiasakan” berarti melazimkan, mengadatkan, atau menjadikan adat.
Dan kata “kebiasaan” berarti sesuatu yang telah biasa dilakukan, atau adat
(Poerwadarminta, 2007: 153). Jadi, kata pembiasaan berasal dari kata dasar
“biasa” yang memperoleh imbuhan prefiks “pe” dan sufiks “an”, yang berarti
proses membiasakan, yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu kebiasaan atau
adat.
Pembiasaan mempunyai peranan yang sangat besar dalam
kehidupan manusia, karena dengan kebiasaan, seseorang mampu melakukan hal-hal
penting dan berguna tanpa menggunakan energi dan waktu yang banyak. Dari sini
dijumpai bahwa dalam Al Qur’an menggunakan pembiasaan yang dalam prosesnya akan
menjadi kebiasaan sebagai salah satu cara yang menunjang tercapainya target
yang diinginkan dalam penyajian materi-materinya.
Menurut Zayadi (2005: 64), bahwa proses pembiasaan harus
dimulai dan ditanamkan kepada anak sejak dini. Potensi ruh keimanan manusia
yang diberikan oleh Allah Swt. harus senantiasa dipupuk dan dipelihara dengan
memberikan pelatihan-pelatihan dalam ibadah. Jika pembiasaan sudah ditanamkan,
maka anak tidak akan merasa berat lagi untuk beribadah, bahkan ibadah akan
menjadi bingkai amal dan sumber kenikmatan dalam hidupnya karena mereka bisa
berkomunikasi langsung dengan Allah Swt. dan sesama manusia.
b.
Shalat
Dhuha
Shalat Dhuha merupakan shalat sunah yang sangat dianjurkan
oleh Rasulullah Saw., sebab baliau berpesan kepada para sahabatnya untuk
mengerjakan shalat Dhuha sekaligus menjadikannya sebagai wasiat. Wasiat yang
diberikan kepada Rasulullah Saw. Kepada satu orang berlaku untuk seluruh umat,
kecuali terdapat dalil yang menunjukkan kekhususan hukumnya bagi orang tersebut
(Al Mahfani, 2008: 3). Shalat dhuha adalah shalat sunah
yang dikerjakan pada pagi hari, dimulai setelah terbit matahari (sekitar jam
07.00) sampai sebelum masuk waktu Dzuhur ketika matahari belum naik pada posisi
tengah-tengah.
Keutamaan shalat
dhuha antara lain adalah Shalat
Dhuha memiliki nilai amalan sedekah yang diperlukan oleh 360 persendian tubuh
dan orang yang melaksanakannya akan memperoleh ganjaran pahala sebanyak jumlah
persendian itu, Shalat Dhuha seseorang di awal hari menjanjikan tercukupinya
kebutuhan orang tersebut di akhir hari, Shalat Dhuha bisa membuat orang yang
melaksanakannya (atas izin Allah Swt.) meraih keuntungan (ghanimah) dengan cepat.
c.
Hakikat
Akhlak
Kata akhlak ( َأخْلأَقٌ ) berasal dari bahasa Arab, yaitu
jama’ dari khuluqun (خُلُقٌ ) yang menurut bahasa berarti budi pekerti,
perangai, tingkah laku atau tabiat. Imam Al-Ghazali mengemukakan, bahwa akhlak
adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul
perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran
(lebih dahulu). Sedangkan Ahmad Amin menjelaskan, bahwa akhlak adalah adatul
iradah atau kehendak yang dibiasakan. (Mustofa, 2005: 12).
Menurut Ibnu ‘Ilaan Ash-Shiddieqy, bahwa akhlak adalah suatu
pembawaan dalam diri manusia yang dapat menimbulkan perbuatan baik, dengan cara
yang mudah (tanpa dorongan dari orang lain). Sedangkan Abu Bakar Al-Jazairy
mengatakan, bahwa akhlak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri
manusia, yang menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela dengan
cara yang sengaja (Mahyuddin, 2001: 3).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah
perbuatan manusia yang berasal dari dorongan jiwanya karena kebiasaan, tanpa
memerlukan pikiran terlebih dahulu.
BAB III
Metode Penelitian
A.
Rancangan
Penelitian
Penelitian
ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif karena analisis data akan diuraikan
secara verbal yang menggambarkan perencanaan, pelaksanaan, dan hasil tindakan
pada siklus I dan II yang bertujuan untuk meningkatkan akhlak siswa melalui
pembiasaan shalat dhuha. Penelitian ini berusaha mengungkapkan gejala secara
menyeluruh dan sesuai dengan konteks (holistik dan kontekstual) melalui
pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai
instrumen kunci.
Jenis
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan
kelas, karena tindakan yang akan dilakukan pada pembelajaran dalam kelas.
Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri dari empat tahap,
yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Kemmis
menggambarkan daur PTK sebagai berikut:
Tindakan
penelitian ini dilakukan dua siklus sebab setelah dilakukan refleksi yang meliputi
analisis dan penelitian terhadap proses tindakan sebelumnya, akan muncul
permasalahan atau pemikiran baru sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang,
pengamatan ulang dan refleksi ulang.
Penelitian
ini dimulai dari tahap identifikasi masalah mengenai pelaksanaan pembiasaan
shalat dhuha untuk. Tindakan penelitian menggunakan siklus, yang terdiri atas
tahap:
1.
Perencanaan yang merupakan
upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam proses pembelajaran.
2.
Pelaksanaan tindakan yaitu
melaksanakan pembiasaan shalat dhuha. Pembiasaan shalat Dhuha
dilaksanakan tiga kali dalam seminggu, yaitu pada hari selasa, kamis, dan
sabtu. Shalat Dhuha ini dimulai pada pukul 09.00 sampai 10.00 WIB.
Langkah-langkah: Mengajak siswa
wudhu, Shalat Dhuha dilaksanakan dengan cara berjamaah pada dua rakaat pertama,
dan dua rakaat selanjutnya dilaksanakan dengan sendiri-sendiri, Setelah shalat
Dhuha selesai, siswa membaca do’a shalat Dhuha bersama-sama, kemudian diakhiri
dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an yang dibimbing oleh guru.
3.
Pengamatan/observasi untuk
mengetahui akhlak siswa dan untuk mengetahui sikap positif dan negatif siswa.
4.
Tahap refleksi
(perenungan, pemikiran, dan evaluasi) di setiap siklusnya (siklus I dan II)
untuk mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan
(Kemmis and Taggart, 1988). Sesuai dengan prinsip umum penelitian tindakan,
setiap tahapan dan siklusnya dilakukan secara partisipatoris dan kolaboratif
antara peneliti dan guru. Pada siklus II, siswa diabsen dan
jika ada yang terlambat akan diberi hukuman yaitu membaca surat Yasin dengan
bimbingan guru.
B.
Latar
dan Subyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kelas V SDN 01 Kanigoro,
selama tiga kali dalam seminggu yaitu selasa, kamis dan sabtu pukul 09.00 -
10.00. Penelitian ini dilakukan selama enam bulan, bulan September – bulan
Februari.
Subyek penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 33
orang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Observer terdiri
dari dua orang guru yang membantu peneliti melakukan dokumentasi.
C.
Teknik
Pengumpulan Data
Pegumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Observasi
yaitu melakukan pengamatan langsung kepada siswa mengenai tingkah laku siswa
pada saat jam istirahat. Dalam
hal wawancara, peneliti lebih banyak menggunakan wawancara tidak berstruktur
(terbuka). Peneliti hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau
pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar subyek secara
bebas.
Sedangkan dokumentasi ini
berupa foto yang berisi keyakinan, perasaan dan tindakan siswa.
D.
Instrument
Penelitian
Peneliti sendiri dengan menggunakan pedoman
observasi, wawancara, dokumentasi (alat perekam berupa video). Lembar Observasi
dan angket hasil Kegiatan Belajar Mengajar
1.
Lembar observasi Kemampuan Melafalkan
dan Menghafalkan Bacaan Sholat dhuha Siswa.
2.
Lembar observasi hasil aktifitas siswa
dan guru, untuk mengamati aktifitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.
3.
Absensi pelaksanaan sholat dhuha. Lembar
observasi dan angket tersebut diberikan setiap akhir putaran.
E.
Analisis
data
Teknik analisis data secara deskriptif kualitatif.
Data tentang ketakwaan melalui ceck list, catatan pengamatan, dokumentasi.
Daftar Pustaka
Al
Mahfani, M. Khalilurrahman. 2008. Berkah Shalat Dhuha. Jakarta: Wahyu
Media.
Amin,
Moh. 2011. Panduan Praktis Penelitian
Tindakan Kelas Untuk Penelitian Angka Kredit Guru. Yogyakarta: Inspirasi
Hariyanto. 2003. Psikologi Shalat. Yogyakarta: Mitra
Pustaka.
Mahyuddin.
2000. Konsep dasar Pendidikan Akhlak
dalam Al-Qur’an dan Petunjuk Penerapannya dalam Hadits. Jakarta: Kalam
Mulia.
Malawi,
Ibadullah & Siswanto, Edy. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Madiun:
IKIP PGRI Madiun.
Mustofa,
A. 2005. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.
Poerwadarminta.
2007. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

perlu ditingkatkan
ReplyDelete